A. Pengertian sejarah
Secara Etimologi, kata sejarah
berasal dari bahasa Arab syajarah (Syajaratun) artinya Pohon. Di indonesia
sejarah dapat berarti silsilah, asal-usul, riwayat dan jika dibuat skema
menyerupai pohon lengkap dengan cabang, ranting dan daun. Di dalam kata sejarah
tersimpan makna pertumbuhan atau silsilah.
Pada masa sekarang ini, untuk
kepetingan tertentu kita memerlukan keterangan riwayat hidup. Kata riwayat
kurang lebih ebrarti laporan atau cerita tentang kejadian. Sedangkan kata
hikayat (Yang dekat dengan sejarah), artinya cerita tentang kehidupan, yaitu
yang menjadikan manusia sebagai objeknya, disebut juga biografi (bios=hidup,
graven=menulis). Jadi, cerita yang berkisar mengenai kehidupan penulis yang
ditulis oleh diri sendri atau pelakunya sendiri disebut autobiografi.
Dalam bahasa arab kata “kisah” yang
umumnya menunjuk ke masa lampau, justru lebih mengandung cerita yang
benar-benar terjadi pada masa lampau, yakni sejarah. Di dalam bahasa-bahasa
nusantara ada beberapa kata yang kurang lebih mengandung arti sejarah ialah
“Babad”, yang berasal dari bahasa jawa “tambo”, bahasa minangkabau “tutui
teteek”, bahasa Roti “Pustaka” atau “cerita”. Barangkali kata babad ada hubungannya
dengan kata “babad” bahasa jawa dalam arti “memangkas”. Hasil pembabadan
ialah suasana terang, dengan demikian babad dalam arti sejarah bertugas unutk
menerangkan suatu keadaan.
Untuk lebih memahami secara lebih
mendalam, maka mari kita simak pengertian sejarah di negara lain. Perkataan
sejarah dalam bahasa belanda ialah geschiedenis (dari kata geschiede=terjadi).
Sedangkan dalam bahasa inggris disebut history, (berasal dari bahasa Yunani
“historia”) yang berarti apa yang diketahui dari hasil penyelidikan atau ilmu.
Sejarah berarti peristiwa yang terjadi dalam masyarakat manusia di masa lampau.
Selanjutnya, mari kita perhatikan
beberapa pendapat mengenai pengertian sejarah yang dikemukakan oleh beberapa
ahli. Dengan penyajian beberapa definisi sejarah dari beberapa ahli, dapat
dijadikan bahan perbandingan menuju ke arah spengertian sejarah yang lebih
sempurna dan benar, serta memiliki kesadaran sejarah yang mendalam.
Beberapa definisi sejarah yang
dikemukakan oleh para ahli, antara lain sebagai berikut :
1. Roeslan Abdulgani, mengemukakan
bahwa sejarah ialah ilmu yang meneliti dan menyelidiki secara sistematis
keseluruhan perkembangan masyarakat serta kemanusiaan di masa lampau beserta
kejadian-kejadiannya; dengan maksud untuk menilai secara kritis seluruh hasil
penelitiannya, untuk dijadikan perbendaharaan-pedoman bagi penilaian dan
penentuan keadaan masa sekarang serta arah progres masa depan. Ilmu sejarah
ibarat penghlihatan tiga dimensi; pertama penghlihatan ke masa silam, kedua ke
masa sekarang, dan ketiga ke masa yang akan datang. Atau dengan kata lain,
dalam penyelididkan masa silam tidak dapat melepaskan diri dari
kenyataan-kenyataan masa sekrang yang sedang dihadapi, dan sedikit banyak tidak
dapat kita melepaskan diri dari perpekstif masa depan.
2. moh. Yamin, SH, memberikan
definisi sejarah ialah suatu ilmu pengetahuan yang disusun atas hasil
penyelidikan beberapa peristiwa yang dapat dibuktikan dengan kenyataan.
3. Thomas Caryle, memberikan
definisi sejarah adalah peristiwa masa lampau yang mempelajari biografi
orang-orang terkenal. Mereka, adalah penyelamat pada zamannya. Mereka merupakan
orang-orang besar yang pernah dicatat sebagai peletak dasar sejarah.
4. Herodos, ahli sejarah pertama
dunia berkebangsaan Yunani, yang mendapat julukan : The Father of History atau
bapak sejarah. Menurut Herodotus sejarah tidak berkembang ke arah depan dengan
tujuan yang pasti, melainkan bergerak seperti garis lingkaran yang tinggi
rendahnya diakibatkan oleh keadaan manusia.
5. Ibnu Khaldun, mendefinisikan sejarah
sebagai catatan tentang masyarakat umat manusia atau peradaban dunia, tentang
perubahan-perubahan yang terjadi pada wakta masyarakat itu.
Dari beberapa definisi yang
dikemukakan oleh beberapa tokoh di atas tidaklah sama dalam hal isi, taraf dan
tujuannya. Namun, dapat diambil beberapa unsur pokoknya, yakni adanya
peristiwa, kisah, dan ilmu sejarah. Dalam hal ini, R. Moh. Ali menyimpulkan
definisi sejarah sebagai berikut :
1. Sejarah yaitu ilmu yang
menyelidiki perkembangan peristiwa dan kejadian-kejadian di masa lampau.
2. Sejarah yaitu kejadian-kejadian,
peristiwa-peristiwa yang berhubungan dengan manusia, yakni menyangkut perubahan
yang nyata di dalam kehidupan manusia.
3. Sejarah yaitu cerita yang
tersusun secara sistematis (teratur dan rapi).
Dari definisi Moh. Ali ini dapat
dipahami bahwa sejarah menyangkut seluruh perubahan dan perkembangan kehidupan
manusia. Dengan demikian jelas juga bahwa yang mempunyai sejarah hanyalah
manusia.
Untuk mengungkap kehidupan manusia
masa lampau, sejarah telah memformulasikan dalam enam pertanyaan, yakni sebagai
berikut :
1. What (apa), yang menunjuk kepada
peristiwa yang terjadi pada masa lampau
2. Who (Siapa), yang menunjuk
tentang tokoh atau orang yang terlibat dalam peristiwa.
3. When (kapan), menunjuk waktu terjadinya
peristiwa tersebut
4. Where (dimana), menunjuk kepada
tempat peristiwa terjadi.
5. How (bagaimana), menunjuk kepada
proses terjadinya peristiwa tersebut
6. Why (mengapa), menunjuk kepada
keterkaitan sebab akibat peristiwa tersebut.
B. Sejarah sebagai peristiwa, kisah, ilmu dan seni
1. Sejarah sebagai peristiwa
Dalam mempelajari sejarah, salah
satu manfaat yang dapat kita peroleh ialah manfaat pendidikan. Dari
manfaat ini maka kita sering mendengar ucapan “Belajarlah dari sejarah{“ atau
“Sejarah mengajarkan kepada kita” atau “perhatikanlah pelajaran-pelajaran yang
diberikan oleh sejrah”. Dengan demikian, persoalan “belajar dari sejarah” ini
menyangkut diktu “L’historie se repete’ atau sejarah berulang. Maka kita
bertanya : “Benarkah sejarah berulang”
Secara sepintas kita cenderung untuk
menjawab dengan tegas “tidak”. Dengan alasan bahwa tidak ada peristiwa yang
dapat terjadi lagi. Perlawanan pattimura (1817) ; perlawanan kaum paderi
(1821-1838), perlawanan diponegoro (1825-1830); perlawanan bali (1846-1905),
perlawanan aceh (1871-1904), dan perlawanan-perlawanna daerah yang lain,
demikian juga proklamasi 17 Agustus 1945 tidak akan terjadi lagi, tidak akan
terulang lagi. Semua ini sesuai dengan diktum Geschiste isn einmalig atau
sejarah hanya terjadi sekali saja.
Jadi, sejarah sebagai peristiwa yang
mungkin terulang lagi (einmalig=terjadi sekali saja). Dengan kata lain, sejarah
sebagai peristiwa, hanya sekali terjadi (einmalig).
2. Sejarah sebagai kisah
Sejarah sebagai kisah adalah sejarah
yang menyangkut penulisan peristiwa tersebut oleh seseorang sesuai dengan
konteks zamannya dan latar belakangnya. Sejarah sebagai kisah dapat dikisahkan
atau ditulis lagi oleh siapa saja dan kapan saja sehingga ada proses
berkelanjutan.
Peristiwa-peristiwa seperti pahlawan
pattimura 1817: perlawanan kaum paderi (1821-1838), perlawanan diponegoro
(1825-1830); perlawanan bali (1846-1905). Perlawanan aceh (1871-1904),
Proklamasi 17 Agustus 1945 dan sebagainya dapat berulang kali ditulis kembali
(dikisahkan) oleh penulis sejarah ( sejarawan) atau orang yang berminat pada
sejarah, baik oleh angkatan sejarah (Sejarawan) atau orang yang berminat pada
sejarah, baik oleh angkatan ’45 ’50 ’66, atau angkatan 2004. Hasil penulisannya
berupa karya tulis, dapat berwujud cerpen, buku atau dalam majalah, surat kabar,
dan sebagainya.
Demikian juga kegiatan upacara
peringatan, Proklamasi 17 Agustus dapat terulang-ulang dimana saja, oleh siapa
saja, misalnya di sekolah oleh warga sekolah, di kantor oleh warga kantor, di
kampung oleh warga kampung dan sebagainya, yang hingga tahun 2006 telah genap
61 tahun (HUT RI Ke-61). Jadi, peristiwanya hanya sekali (proses tidak
berkelanjutan = sejarah obyektif = sejarah sebagai peristiwa), namun
kisahnya/peringatannya atau makna dari peristiwa tersebut dapat berulang-ulang
(Ada proses berkelanjutan = sejarah subyektif-= sejarah sebagai kisah).
3. Sejarah sebagai ilmu
Berdasarkan uraian di atas kita
ketahui bahwa sejarah mempunyai beberapa pengertian, yaitu sebagai berikut:
a. Sejarah sebagai peristiwa adalah
menyangkut peristiwanya itu sendiri, yang sekali terjadi, sehingga tidak
berulang.
b. Sejarah sebagai kisah adalah
menyangkut penulisan kembali peristiwa tersebut oleh seorang sejarawan/siapa
saja yang berminat terhadap sejrah lewat jejak-jejak masa lalu.
Selain sejarah sebagai peristiwa dan
sebagai kisah,sejarah juga sebagai ilmu. Untuk memahami tentang sejarah sebagai
ilmu; perlu kiranya mengetahui apa ilmu itu dan apa kriterianya? Ada beberapa
jalan untuk mencari pengetahuan, antara lain sebagai berikut:
a. Dengan jalan mendengarkan cerita
orang lain
Pengetahuan yang didapat dari
mendengarkan cerita orang, belum sahih jika belum ada bukti-bukti pengujiannya,
sebab mungkin sekali cerita itu hanya mengisi waktu luang.
b. Dengan jalan
keterangan/penelitian
Pengetahuan yang berdasarkan
keterangan, memberi dasar yang kuat, dan kokoh akan pengetahuan kita.
c. Dengan jalan pengalaman sendiri
Pengetahuan berdasarkan pengalaman
ada yang berdasarkan kenyataan yang pasti; tetapi derajat kebenarannya
tergantung akan ketajaman pengetahuan kita.
Untuk membedakan pengetahuan yang
didapat dari pengalaman dan penelitian dapat diberikan beberpaa contoh sebagai
berikut:
Seorang petani menggunakan pupuk
untuk tanamannya karena berdasarkan pengalamannya, tanaman yang dipupuk
memberikan hasil lebih baik daripada tanaamn yang tidak dipupuk. Pengetahuan
tersebut berdasarkan pengalamannya sendiri. Lain halnya seorang ahli
tanaman, memberikan pupuk pada tanaman berdasarkan penyelidikan/penelitian,
bahwa tanaman itu memerlukan jenis pupuk tertentu dan pada saat-saat tertentu
sehingga hasilnya baik.
Kedua contoh tersebut di atas
sama-sama pengetahuan untuk memupuk tanaman. Pengetahuan yang didapat
berdasarkan pengalaman, disebut pengetahuan pengalaman, disebut pengetahuan
pengalaman atau sering disingkat pengalaman. Adapun pengetrahuan yang didapat
berdasarkan penelitian disebut ilmu. Suatu pengetahuan disebut ilmu jika
memenuhi beberapa kriteria, yakni : (1) memiliki metode yang efisien, ilmu jika
memnuhi beberapa kriteria, yakni (1) memiliki metode yang efisien, (2) memiliki
obyek yang definitif, (3) memiliki formulasi kebenaran yang umum, (4) adanya
penyusunan yang sistematis, dan (5) memiliki kebenaran yang obyektif.
Dari uraian di atas mengenai
ciri-ciri ilmu, bagaiaman dengan sejarah? Jelaslah bahwa sejrah juga
termasuk ilmu tersendiri, karena memiliki persyaratan sebagai ilmu, yakni :
a. Memiliki tujuan
ilmu memiliki tujuan sendiri untuk
membedkan dengan ilmu yang lain. Artinya, dengan memiliki tujuan, sesuatu ilmu
akan dibatasi oleh objek material atau sasaran yang jelas. Misalnya, objek ilmu
kedokteran adalah manusia dan masyarakat dengan sasaran pokok tubuh manusia
(misalnya penyakit). Dengan demikian fokus usahanya ialah usaha untuk
menyembuhkan supaya manusia menjadi sehat. Ilmu kedokteran juga bertujuan untuk
memanfaatkan ilmu dan teknologi kedokteran demi untuk menjaga kesehatan manusia
dan masyarakt.
Sementara itu, objek kajian sejarah
adalah kehiduapn manusia masa lampau, yang selanjutnya dapat dikaitkan dengan
kehidupan masa sekarang dan masa ynag akan datang sebagai keontinuitas
kehidupan. Sejarah memiliki ruang lingkup yang jelas, yakni apa yang
dipikirkan, dilakukan, dan dirasakan oleh manusia.
b. Memiliki metode
Metode dalam arti yang luas adalah
cara atau jalan untuk melakukan seseuatu menurut aturan tertentu. Dengan
menggunakan metode, maka seseorang dapat melakukan kegiatan secara lebih
terarah. Dengan demikian kegaitan tersebut bersifat lebih praktis sehingga
dapat mencapai hasil maksimal. Kumpulan pengetahuan yang memiliki metode akan
dapat tersusunn secara lebih terarah, lebih teratur serta lebih mudah
dipelajarii. Tanpa suatu metode, suatu pengetahuan mengenai apapun tidak dapat
digolongkan ke dalam ilmu.
Sejarah memiliki metode tersendiri
dalam kerangka penelitiannya, yakni metode sejarah meliputi pengumpulan,
mengadakan penilaian sumber (kritik), penafsiran data dan penyajian dalam
bentuk cerita sejarah (historiografi).
c. Pemikiran yang rasional
Ilmu hanya dapat dipahami dengan
akal pikiran yakni dengan menggunakan penalaran yang sehat. Analisis yng
dilakukan terhadap sejumlah pengetahuan harus dilakukan sedemikian rupa
sehingga dapat diterima oleh aturan-aturan logika untuk mencapai suatu
kesimpulan. Proses penyimpulan disebut penalaran.
Demikian pula dengan syariah apa
yang disajikan dalam bentuk sejarah diusahakan sejauh mungkin mendekati seperti
peristiwanya. Hal ini dapat dilakukan dengan analisis data secara ilmiah dengan
menggunakan rasio.
d. Penyusunan yang sistematis
Penyusunan secara sistematis
memungkinkan pengetahuan yang diteliti saling berkaitan dengan bidang ilmu lain
sehingga merupakan suatu kesatuan yang saling berhubungan satu sama lain.Dengan
demikian, berbagai pengetahuan tersebut tidak saling bertentangan melainkan
dapat runtut dan konsisten. Jadi, yang dimaksud dengan ilmu bukan hanya sekedar
kumpulan pengetahuan yang terkumpul menjadi satu.
Penyusunan secara sistematis
pengetahuan sejarah mulai dari langkah yang pertama (pengumpulan sumber) sampai
dengan yang terakhir (penulisan sejarah sebagai kisah).
e. Kebenaran bersifat objektif
Pengetahuan ilmia dapat
dikomunikasikan dengan orang lain dan kebenarannya dapat diterima oleh orang
lain juga, karena sesuai dengan kenyataan (objektif). Sejarah sepanjang menyangkut
tentang fakta adalah objektif. Oleh karena fakta sejarha objektif, maka
penulisannya harus berdasarkan fakta tersebut. Dengan demikian, sejarah memilik
kebenaran objektif.
Dengan kriteria seperti tersebut di
atas, maka jelas bahwa sejarah dapat dimasukkan dalam ilmu tersendiri. Jadi
ilmu sejarah memperoleh kedudukan sebagai ilmu setelah pelbagai peristiwa sejah
itu disoroti sebagai suatu permasalah dengan cara menganalisis hubungan sebab
akibat sedemikian rupa, sehingga dapat ditemukan hukum-hukum sejarah tertentu
yang menjadi patoka bagi terjadinya peristiwa.
f. Sejarah sebagai seni
Satu pertanyaan yang terbesit dalam
pemikiran kita setelah mengetahui bahwa sejarah merupakan ilmu tersendiri
karena berbagai kriteria yang dimilikinya, yaitu mengapa sejarah juga sebagai
seni?
Apabila seseorang menulis (Sejarah
sebgai kisah), berdasarkan jejak-jejak maka sumber itu merupakan sumber lepas
dan belum dianggap sejarah. Hasil penyusunan penulisan sejarh sebagai kisah.
Bahan-bahan lepas, daftar atau deretan angka-angka tahun serta catatan-catatan
peristiwa itu semuanya baru merupakan kronik, dan bukan sejarah. Semuanya baru
bisa dikatakan sejarah setelah dirangkai, disusun oleh seorang sejarawan atau
peminat sejarah dengan menggunakan metode sejarah. Dengan demikian jelas bahwa,
meskipun seseorang menulis suatu kisah/sejarah berdasarkan sumber-sumber yang
sama belum tentu hasilnya akan sama. Perbedaan itu bukan dalam data, atau pun
sumbernya, tetapi penafsirannya dan penyimpulannya. Sebab latar belakang penulis
juga ikut mewarnainya, seperti pendidikan, falsafah hidupnya, dan pengalaman,
begitu juga penuturannya.
Jadi meskipun sejarah disusun
berdasarkan bahan-bahan secara ilmiah, tetapi penyajiannya menyangkut soal
keindahan bahasa, dan seni penulisan : maka kita cenderung untuk menyimpulkan
bahwa sejarah termasuk juga sebagai karya seni, tetapi yang benar-benar seni
juga tidak, sebab proses penelitiannya dilakukan secara ilmiah.
Dengan demikian jelaslah bahwa dalam
proses penelitiannya sumber sejarah bersifat ilmiah, tetapi dalam taraf
penulisannya sejarah bersifat seni.
C. Periodisasi dan kronologi
1. Periodisasi
Klasifikasi dalam ilmu sejarah
menghasilkan pembagian zaman, periode, babakan waktu atau masa. Kurun adalah
satu kesatuan waktu yang isi, bentuk dan waktunya tertentu.
Dalam periodisasi diadakan
serialisasi rangkaian babakan menurut urutan zaman. Sejarah dibagi-bagi menjadi
zaman-zaman dengan ciri-cirinya masing-masing. Periodisasi sangat penting dalam
histiografi karena merupakan batang tubuh cerita sejarah. Periodisasi
mengungkapkan ikhtisar sejarah dan di dalamnnya harus dapat dikenali jiwa atau
semangat setiap zaman, masing-masing pola dan struktur urutan kejadian, atau
peristiwa-peristiwa. Periodisasi dapat disusun berdasarkan perkembangan politik,
perekonomian, kesenian, agama dan sebagainya. Setiap penulis sejarah bebas
menentukan/memilih periodisasi, yang mencerminkan keyakinannya, pendiriannya,
dan visi sejarahnya.
a. Pengertian Periodisasi
Periodisasi atau pembabakan waktu
adalah salah satu proses strukturisasi waktu dalam sejarah dengan pembagian
atas beberapa babak, zaman atau periode. Peristiwa-peristiwa masa lampau yang
begitu banyak dibagi-bagi dan dikelompokkan menurut sifat, unit atau bentuk
sehingga membentuk satu kesatuan waktu tertentu. Periodisasi atau pembagian
babakan waktu merupakan inti cerita sejarah.
b. Tujuan periodisasi
Mengetahui pembabakan waktu sejarah
akan sangat bermanfaat bukan saja bagi penulis sejarah akan tetapi juga bagi
para pembaca/penggemar cerita sejarah apalagi bagi apara siswa yang belajar
ilmu sejarah. Cerita sejarah yang ditulis para sejarawan dengan menempatkan
skenario peristiwa sejarah dalam setting babakan waktu, akan sangat memudahkan
serta menarik para pembaca atau siswa untuk mengetahui peristiwa sejarah secara
kronologis.
Adapun tujuan dari pembabakan waktu
adalah sebagai berikut :
1. Melakukan penyederhanaan
Gerak pikiran dalam usaha mengerti
ialah melakukan penyederhanaan. Begitu bayaknya peristiwa-peristiwa sejarah
yang beraneka ragam disusun menjadi sederhana, sehingga mendapatkan ikhtisar
yang mudah dimengerti.
2. Memudahkan klasifikasi dalam ilmu
sejarah
Klasifikasi dalm ilmu akan
meletakkan dasar pembagian jenis, golongan suku, bangsa dan seterusnya.
Klasifikasi dalam ilmu sejarah meletakkan dasar babakan waktu. Masa lalu yang
tidak terbatas peristiwa dan waktunya dipastikan isi, bentuk dan waktunya
menjadi bagian-bagian babakan waktu.
3. Mengetahui peristiwa sejah secara
kronologis
Menguraikan peristwa sejarah secara
kronologis akan memudahkan pemecahan suatu masalah. Ahli kronologi menerangkan
perlbagai tarikh, atau sistem pemenggalan yang telah dipakai diperlbagai tempat
dan waktu, memungkinkan kita untuk menerjemahkan pemenggalan dari satu tarikh
ke tarikh yang lain.
4. Memudahkan pengertian
Gambaran peristiwa-peristiwa masa
lampau yang sedemikian banyak itu dikelompokkan-kelompokkan, disederhanakan,
dan diiktisarkan menjadi satu tatanan (orde), sehingga memudahkan pengertian.
5. untuk memenuhi persyaratann
sistematika ilmu pengetahuan
Jadi, tujuan diadakannya periodisasi
ialah untuk mengadakan tinjauan menyeluruh terhadap peristiwa-peristiwa dan
saling hubungannya dengan berbagai aspeknya. Pelaksanaan periodisasi yang
paling mudah ialah dengan pembabakan yang disusun berdasarkan urutan abad. Akan
tetapi, periodisasi yang demikian mempunyai kelemahan tidak mengungkapkan corak
yang khas pada zaman yang ditinjau.
Semua kejadian atau peristiwa selama
100 tahun dikumpulkan menjadi satu himpunan cerita, maka tampakla cerita-cerita
secara tersusun menurut abad. Inti deretan itu adalah 0 (teoritis) yang membagi
dua deretan tersebut, seperti dalam contoh berikut ini :
Masa sebelum masehi (SM/BC), masa
sesudah masehi (M/AD)
Ada juga periodisasi berdasarkan
zaman (Sejarah eropa) :
I. Zaman kuno : 476 AD.
II. Zaman pertengahan : 476-1453 AD
III. Zaman baru : 1453-1789
IV. Zaman terbaru : 1789 - .....
Selanjutnya ada perbaikan sehingga
muncul periodisasi sebagai berikut :
1. Pre-History (Pra sejarah)
2. Proto Hisyory (Mula sejarah)
3. Ancient History (Sejarah Kuno)
4. Middle Age (Zaman pertengahan)
5. The Early Modern Period
(Permulaan zaman modern)
6. The Nineteenth (Abad ke-19)
7. Two world war and The Inter World
Period (Dua perang dan masa antara dua perang dunia)
8. The Post War Period (Masa sesudah
perang)
Periodisasi juga dapat dibuat
menurut urutan pergantian dinasti-dinasti. Sejarah mesir kuno dan cina kuno
misalnya, adalah contoh periodisasi yang lazim digunakan : demikian juga
sejarah jawa.
Contoh Periodisasi cina :
1. Dinasti Shang : 1450 – 1050 SM
2. Dinasti Chou : 1050 – 247 SM
3. Dinasti Chin : 256-207 SM
4. Dinasti Han : 206 – 207 SM
5. Dinasti Sui : 580-618 M
6. Dinasti Tang : 618 – 906 M
7. Dinasti Mongol : 1280 – 1369 M
8. Dinasti Ming : 1368 – 1644 M
9. Dinasti Mancu : 1644-1911 M
10. Republik : 1911 – ....
Uraian di atas merupakan periodisasi
sejarah dunia. Bagaimanakah sejarah di indonesia? Dua tokoh yang menyampaikan
periodisasi sejarah di indonesia yaitu :
1. H.J. de Graff
2. Moh. Yamin
Bila kita cermati, masih banyak lagi
periodisasi yang dapat dibuat untuk sejarah indonesia ; apalagi indonesia
sekarang sudah memasuki zaman reformasi, sehingga rentangan sejarah indonesia
dari zaman prasejarah hingga zaman reformasi menjadi garapan tersendiri bagi
para sejarawan indonesia di masa kini.
Masih banyak contoh adanya
periodisasi, yang dibuat untuk sejarah manusia : Apalagi indonesia sekarang
sudah memasuki zaman reformasi, sehingga rentangan sejarah indonseisa dari
zaman prasejarah hingga zaman reformasi menjadi garapan tersendiri bagi para
sejarawan indonesia di masa kini.
Masih banyak contoh adanya
periodisasi, yang dibuat oleh tokoh-tokoh sejarah. Satu hal yang perlu
diperhatikan dan dipahami bahwa dalam periodisasi dan terdapat banytak
unsur/faktor yang dapat digunakan sebagai kriteria untuk menyusun pembagian
waktu, seperti : Faktor geografis, kronologis, keluarga/dinasti, perjuangan
manusia, ekonomi, teori evolusi dan sebagainya.
2. Kronologi
Ilmu sejarah meneliti dan mengkaji
peristiwa kehidupan manusia masa lampau : jadi menyangkut konsep waktu. Adapun
konsep waktu dalam sejarah berdimensi tiga, yakni masa lalu, masa sekarang, dan
masa yang akan datang (the past, the present, and the future). Itulang
pemenggalan waktu atas dasar kesadaran manusia. Jika batas-batas waktu dalam
tiga dimensi dahulu, sekaran dan yang akan datang dihilangkan, maka sang waktu
benar-benar berpankal dan tidak berujung. Begitulah penentuan waktu, sangat
penting sekali sebagai batas tinjauan kerangka gerak sejarah. Dalam ilmu
sejarah, dimensi waktu merupakan unsur penting.
Waktu perlu dibuat batasan awal dan
akhir yang disebut kurun waktu atau babakan waktu (periode/peridisasi) secara
berurutan (succession), yaitu prinsip kronologi dalam sejarah. Menurut
Alexander D. Xenopol, peristiwa berulang dipelajari oleh ilmu Pengetahuan Alam
(IPA); sedangkan peristiwa berurutan merupakan obyek studi sejarah sebagai
ilmu. Dengan demikian peristiwa berurutan merupakan obyek stud sejarah sebagai
ilmu, karena sejarah menitikberatkan urutan (succesion, chronology) sebagai
pokok penelitian. Urutan yang dimaksud adalah pertumbuhan dan perkembangan
dalam esensi pengertian perubahan, baik evolusi maupun revolusi.
D. Kegunaan sejarah
Sejarah adalah pengalaman masa
lampau, oleh sebab itu apabila dipelajari dengan baik dan benar akan banyak
gunanya, banyak manfaatnya, serta mempunyai arti penting dalam kehidupan
masyarakat.
Banyak tokoh yang mengemukakan
pendapatnya mengenai kegunaan sejarah, antara lain C.P. Hill (1956) yang
menyatakan bahwa mempelajari sejarah banyak kegunaanya bagi peserta didik,
antara lain :
1. Secara unik dapat memuaskan rasa
ingin tahu tentang orang lain, tentang kehidupan para tokoh/pahlawan,
perbautan, dan cita-citanya dan juga dapat membangkitkan kekaguman tentang
kehidupan manusia masa lampau.
2. Melalui pengajaran sejarah dapat
dibandingkan kehidupan zaman sekarang dengan masa lampau
3. Melalui pengajaran sejarah dapat
diwariskan kebudayaan umat manusia
4. Lewat pengajaran sejarah di sekolah-sekolah
dapat membantu mengembangkan cinta tanah air di kalangan para siswa
Hubungannya dengan pengajaran,
Sartono Kartodirjo (1922) mengatakan bahwa sejarah mempunyai kegunaan genetis
dan didaktis. Dengan pengetahuan sejarah dimaksudkan agar generasi berikut
dapat mengambil hikmah dan pelajaran dari pengalaman nenek moyang. Di samping
itu suri tauladan mereka dapat menjadi model bagi keturunannya. Selanjutnya
Nugroho Notosanto (1979) mengungkapkan bahwa dengan mempelajari sejarah akan
memiliki wawasan sejarah. Dengan wawasan sejarah dapat mengkonsepkan proses
sejarah yang berguna untuk mengantisipasi masa depan.
Dengan demikian mempelajari sejarah
banyak kegunaanya/manfaatnya, antara lain sebagai berikut :
1. Memberikan kesadaran waktu
Kesadaran waktu yang dimaksud ialah
kehidupan dengan segala perubahan, pertumbuhan, dan perkembangannya terus
berjalan melewati waktu. Kesadaran itu dikenal juga sebagai kesadaran akan
adanya gerak sejarah. Kesadaran tersebut memandang peristiwa-peristiwa sejarah
sebagai sesuatu yang terus bergerak dari masa silam bermuara ke masa kini dan
berlanjut ke masa depan.
2. Memberi pelajaran
Sejarah memberikan pelajaran, sering
kita mendengar ucapan : “Belajarlah dari sejarah”. Dengan mempelajari sejarah
seseorang atau suatu bangsa, kita akan bercermin dan menilai
peristiwa-peristiwa masa lampau yang merupakan kegagalan. Peristiwa-peristiwa
sejarah pada masa lampau, baik yang positif maupaun yang negatif dijadikan
hikmah. Untuk nilai-nilai positif yakni keberhasilan-keberhasilan kita
pertahankan dan kita tingkatkan, sebaliknya untuk nilai-nilai negatif,
kesalahan-kesalahan masa silam tidak terulang laigi. Dengan ini jelas bahwa
sejarah memberikan pelajaran yang dapat memberikan kearifan dan kebijaksanaan
bagi yang mempelajarinya. Pepatah jawa mengatakan “MIKUL DHUWUR MENDEM JERO”
3. Sumber Inspirasi (ilham)
Inspirasi berarti memberikan ilham
atau semangat yang berkaitan dengan pelajaran sejarah tentang semangat
nasionalism Dan patriotisme. Dapat juga dikatakan sejarah berfungsi untuk
menumbuhkan semangat nasionalisme, cinta bangsa dan tanah air. Fungsi sejarah
ini sangat disadari terutama dalam hal yang disebut nation builiding misalnya
ingin melestarikan nilai-nilai perjuangan 1945 seperti persatuan dan kesatuan,
rela berkorban, berjuang tanpa pamrih, semangat gotong royong dan sebagainya.
Dengan demikian, belajar sejarah akan memperkukuh rasa kebangsaan, cinta
bangsa, dan tanah air.
4. Memberikan ketgasan identitas
Nasional dan kepribadian suatu bangsa
Identitas nasional dan kepribadian
suatu bangsa terbentuk dari keseluruhan pengalaman sejarah suatu bangsa
tersebut. Oleh karena setap bangsa memiliki pengalaman sejarah yang
berbeda-beda, maka identitas dan kepriabdian suatu bangsa juga berbeda-beda.
Itulah sebabnya, kepribadian seseorang atau bangsa bersifat unik. Dengan
mempelajari sejarah akan lebih memperjelas identitas nasional dan kepribadian
bangsa.
5. Memberikan hiburan
Dengan mempelajari sejarah yang
indah dan menarik tentang suatu tokoh atau peristiwa, maka akan memperoleh
hiburan. Dengan mempelajari kisah-kisah sejarah di tempat yang jauh, di
negara-negara lain, maka seolah-olah kita bertamasya dan memberikan kepuasan
dalam bentuk “pesona perlawatan”.
Fungsi pengajaran sejarah juga
terlihat dari ungkapan latin “Historia magistra vitae” yang artinya “sejarah
guru kehidupan”. Frederic Harrison secara lengkap menyatakan bahwa sejarah :
“Mengajarkan kepada kita sesuatu tentang kemajuan umat manusia, bahwa sejarah
itu menceritakan kepada kita beberapa semangat luhur yang meninggalkan
jejak-jejaknya sepanjang masa, bahwa sejarah itu menunjukkan kepada kita
bagaimana bangsa-bangsa di muka bumi ini saling berjalin dalam satu tujuan dan
memiliki tujuan-tujuan mulia yang telah memancarkan kesadaran kemanusiaan”, dengan
demikian sejarah mempunyai arti dan peranan yang penting dalam kehidupan
masyarakat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar